Karakteristik Wirausahawan Sukses



Artikel ini membahas tentang karakteristik wirausahawan sukses. Seorang yang bergerak dalam bidang pekerjaan wirausaha perlu memiliki karakter pribadi yang dapat mengantarkan dirinya menuju keberhasilan.

Ciri-ciri utama seorang wirausaha adalah percaya diri, berorientasikan tugas dan hasil, berani mengambil resiko, memiliki sikap kepemimpinan / leadership yang cukup, visioner atau dalam kata lain melihat peluang di masa depan, jujur dan tekun, mengeluarkan produk original, inovatif dan kreatif.

Sedangkan sifat-sifat seorang wirausaha antara lain sebagai berikut :
  1. Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas dan optimisme.
  2. Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.
  3. Memiliki kemampuan ingin mengambil resiko dan suka pada tantangan.
  4. Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain / fleksibel, serta dapat menerima saran dan kritik yang membangun.
  5. Memiliki inovatif dan kreatifitas tinggi, fleksibel, serba bisa, serta memiliki jaringan bisnis yang luas.
  6. Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan (visioner).
  7. Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.

Anda yang ingin terjun dalam bidang wirausaha sangat diperlukan sifat pengusaha sukses di atas agar meraih sukses seperti yang diharapkan. Semoga melalui tulisan singkat ini dapat memicu motivasi dan menjadi wawasan bisnis dalam ilmu prakarya dan kewirausahaan..

Bebas Finansial. Mau?




Tidak sedikit orang yang menginginkan kebebasan finansial atau freedom. Bebas waktu, bebas finansial, sangat menyenagkan bukan? Kalo bahasa jaman sekarang ternak teri (ter anak ter istri)

Yuk kita pahami pelan-pelan arti dari bebas finansial.

- Kebebasan Finansial berarti : Kita tidak perlu lagi bekerja untuk memperoleh pendapatan, karena pasif income kita sudah mampu untuk memenuhi gaya hidup kita. Uang bekerja untuk kita. (Aamiin)

- Tapi kemudian definisi ini di revisi, karena manusia apabila berhenti bekerja maka kreatifitas nya mati dan hidupnya tidak lagi bisa dinikmati. Jadi sekarang Kebebasan Finansial berarti "Penghasilan kita dari pekerjaan sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup kita, dan kita tetap bekerja karena kita ingin terus produktif dan berkreasi"

Ingat pada hakikatnya semua orang cukup, tidak ada yg kurang. Think!

- Saya lebih cocok dengan definisi yg sdh di revisi karena memang bekerja itu ada kenikmatan tersendiri.

- Sebab ada pahala yang hanya didapat dalam bekerja (tolabur rizqi) yang tidak bisa didapat dalam ibadah yang lain.

- Dan pada level ini bukan lagi uang bekerja untuk kita, tetapi uang bisa dijadikan sarana mempermudah ibadah kita.

- Karena uang tersebut kita carinya dengan niat yang baik, dan kita belanjakannya untuk barang yang halal. Perputaran nya bernilai pahala.

- Bekerja atau berbisnis semua sama dihadapan-Nya yg terbaik adalah yg bertqwa. Agar kerja berkah. Kalo bekerja jangan selingkuh pikiran atau korupsi waktu.

Bisnispun demikian gunakanlah cara-cara yg Allah ridoi. Agar Allah ridho dgn kita.

Saya yakin diantara teman-teman sdh ada yg sampai atau sdg proses menuju ke arah sana. Yang penting kalo sdh sampai jangan lupa 2 hal, yg pertama jgn lupa sama saya heee. Yang kedua jangan lupa pesan saya yaitu saat kawan-kawan telah sampai jangan lupa tetaplah berkreasi dan berkontribusi krna sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk banyak orang.
Semoga Allah memudahkan segala langkah kita untuk menuju kebahagiaan dunia & akhirat. Banyak rezeki, suka memberi.

Salam Sukses untuk kita semua. Sahabatmu, SIGIT

Kerendahan hati membuka pintu keilmuan, kemudian rejeki

Rendah Hati Dalam Islam

Berawal dari 1 HP android, saya mulai dengan jualan kaos..
Berawal dari 1 laptop acer, saya mulai iklan di facebook..
Berawal juga dari 1 orang, hingga kini 20 orang..
Saya mulai dari apa yang bisa saya kerjakan & selama 2th terakhir tidak pernah menyentuh sama sekali adwords dan SEO..
Saya percaya ilmu yang di latih 1x terus menerus itu lebih baik di bandingkan punya seribu jurus tapi hanya di latih 1x..
Dan saya masih ingat, kata mas J :
" Keberhasilan bisnis seseorang juga tak dapat diukur dari pencapaian profit ataupun aset yang dimiliki.
Sukses adalah kata yang nisbi, tolak ukurnya bergantung dari value yang digunakan. Kebanyakan orang menilai Pengusaha Sukses adalah pengusaha yang masuk dalam deretan orang terkaya.
Tak peduli berapa orang yang dikorbankan, keluarga yang berantakan, berkah atau tidak bisnisnya.
Semakin lama berbisnis dan berbagi, semakin saya sadar betapa kecilnya ilmu saya dibanding hukum alam yang Allah turunkan..
" Kerendahan hati membuka pintu keilmuan, kemudian rejeki "

Aplikasi Prinsip 1/3 Untuk Restorasi Kemakmuran


Hasil gambar untuk muhaimin iqbal

Oleh: Muhaimin Iqbal

DI DUNIA personal finance dikenal apa yang disebut 70/30 rule, yaitu bila Anda mampu mengkonsumsi hanya 70 % dari pendapatan Anda dan sisanya 30 % ditabung – maka Anda akan memiliki hari tua yang baik. Orang-orang di negara maju pada umumnya lebih bisa mengimplementasikan rule ini karena pendapatannya memang cukup, di negara-negara yang sedang berkembang seperti kita – rule ini masih sulit diterapkan oleh setidaknya dua sebab.

Penyebab pertama adalah pseudo-wealth euphoria atau eforia kemakmuran semu, ini terjadi di seluruh tingkatan ekonomi masyarakat. Seorang pekerja rumah tangga yang baru datang dari kampung dan mulai bekerja di Jakarta, begitu merasa mendapatkan penghasilan cukup – yang dibeli pertama adalah handphone. Sepertiga penghasilannya untuk mencicil handphone dan sepertiga lagi dihabiskan untuk membeli pulsanya, maka sulit sekali terangkat kemakmurannya.

Fenomena yang tidak jauh berbeda adalah di kelompok menengahnya. Begitu mereka mendapatkan pekerjaan yang baik dan dengan pendapatan yang baik pula, mereka berlomba membeli mobil dengan nilai maksimal yang mereka bisa beli. Sampai-sampai perbankan dan lembaga pembiayaan-pun membuat aturan dalam kreditnya, yaitu nilai cicilan maksimal 1/3 dari gaji karyawan yang membeli mobil secara cicilan tersebut.

Mobil dan handphone sesungguhnya bukan hanya mengkonsumsi 1/3 pendapatan. Biaya untuk pemeliharaan, bahan bakar, asuransi dan perilaku konsumtif yang terbawa setelah orang membeli mobil untuk kelas menengah atau handphone untuk kelas bawah – meskipun kelihatannya membuat pemiliknya menjadi makmur, sesungguhnya justru memiskinkan – inilah yang disebut kemakmuran semu itu.

Penyebab kedua adalah inflasi. Kalau toh 70/30 rule tersebut Anda terapkan dan Anda berhasil menyisihkan untuk ditabung 30% dari pendapatan Anda, dalam bentuk tabungan, deposito, asuransi dlsb. Tidak ada jaminan bahwa hari tua Anda akan makmur. Mengapa? Karena tabungan Anda akan beradu cepat pertumbuhannya dengan angka inflasi.

Penyebab kedua ini berlaku di negara berkembang seperti kita maupun di negara-negara maju sekalipun, walhasil statistik di negara maju tidak jauh berbeda dengan statistik di negara berkembang bahwa kurang lebih 9 dari 10 pegawai tidak siap untuk pensiun pada waktunya.
Lantas apa solusi terbaik bagi kita? Solusi terbaik itu datang dari contoh terbaik – uswatun hasanah, yang juga pernah saya tulis di situs ini empat tahun lalu. Kali ini saya akan perjelas dengan contoh aplikasinya.

Contoh ini saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin-nya Imam Nawawi, yang mebahas sebuah hadits panjang berikut :
Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, “Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “Wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu?”, Pemilik kebun menjawab: “Fulan- (yaitu nama yang dia dengar di awan tadi)”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku?”. Dia menjawab, “Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan: Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini?” Pemilik kebun menjawab: ”Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya).” (HR. Muslim).

Maka dengan hadits tersebut di atas ternyata 1/3 rule atau saya sebut prinsip 1/3 -lah yang lebih cocok untuk kita bukan 70/30 rule. Bila kita mampu menerapkan prinsip 1/3 ini – yaitu 1/3 pendapatan kita konsumsi, 1/3 pendapatan untuk bersedekah dan 1/3-nya lagi untuk investasi – maka insyaallah akan turun ‘hujan khusus’ untuk kita-kita.

1/3 yang kita investasikan akan memakmurkan kita dan orang lain di dunia ini, dan kombinasi dari 1/3 yang menciptakan lapangan kerja ini dengan 1/3 yang disedeqahkan insyaallah akan membawa keberkahan untuk bekal akhirat kita.

Teorikah ini? Mungkinkah kita terapkan? Setiap kali saya membahas prinsip 1/3 ini, pertanyaan yang selalu muncul adalah – “bagaimana pak kita bisa hidup hanya dengan 1/3 ?, lha wong dengan 100%nya saja tidak cukup?”

Inilah yang memang harus dibudayakan, yang mengaku tidak cukup tersebut dia sesungguhnya mampu menggunakan uangnya untuk membeli handphone dan pulsanya. Mampu mengkridit motor dan membiayai operasinya, mampu mengkredit mobil beserta perawatan dan biaya operasinya dst.dst.

Maka bila prioritas itu diubah, pos biaya yang konsumtif yang tidak perlu-perlu benar dipindahkan sebagian untuk sedekah dan sebagian untuk investasi produktif –insyaAllah prinsip 1/3 tersebut bisa dijalankan oleh siapapun yang mampu membeli handphone, mengkredit motor atau mobil.
Hari-hari ini saya sedang berbicara intensif dengan rekan-rekan di perbankan. Bagaimana kalau mereka secara bertahap mengurangi kredit konsumsinya dan menggantinya dengan pembiayaan usaha yang produktif. Program seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang berbiaya rendah dan jaminan juga rendah – bisa diperluas targetnya.

Bila selama ini KUR diarahkan untuk para pemilik usaha yang sudah jalan dengan SIUP, TDP dlsb, bagaimana kalau pembiayaan KUR ini berlaku juga untuk menggiring para pegawai yang ancang-ancang untuk pindah kwadran? Mereka belum punya usaha sendiri, jadi jelas belum punya SIUP, TDP dlsb. Tetapi mereka selama ini mampu membayar cicilan mobilnya yang berharga ratusan juta, mengapa tidak dengan cicilan untuk investasi produktif?

Pihak bank akan lebih aman karena selama pegawai tersebut masih bekerja – jaminan pembayaran itu datang dari penghasilannya. Begitu usahanya jalan, si pegawai benar-benar melompat ke kwadran entrepreneur – jaminan pengembalian itu datang dari hasil usahanya.

Lha siapa yang menjalankan usaha si pegawai selama mereka belum terjun sendiri? Pihak bank bisa memilih dan mengawasi pihak-pihak professional sebagai mitranya untuk mengelola usaha si pegawai yang calon pengusaha itu.

Untuk industri pertanian/perkebunan misalnya, program KKP kita – Kepemilikan Kebun Produktif bisa menjadi arena pembelajaran yang menarik untuk semua pihak. Si pegawai calon pengusaha bisa belajar berkebun yang baik – sambil tetap bekerja sampai dia merasa comfortable untuk terjun dan mengelolanya sendiri. Karena disamping penghasilannya dari bekerja, dia berpotensi mendapatkan penghasilan pula dari usahanya, maka dia insyaallah bisa lebih berkesempatan untuk bersedeqah yang 1/3 tersebut di atas. Untuk sementara waktu (5 tahun pertama) dari usaha berkebunnya dapat diserahkan ke kami untuk kami kelola bersama-sama dengan kebun lainnya.

Pihak bank bisa menyalurkan kredit produktif dengan aman – karena dikelola secara professional sejak kredit produktif tersebut keluar, aman pula pengembaliannya karena dijamin oleh penghasilan si pegawai awalnya dan baru setelah jelas hasilnya – dibayar dari hasil usaha yang di danai investasinya tersebut.

Bila skema ini berjalan secara massal, maka akan ada perubahan paradigma di masyarakat, yaitu yang selama ini ramai-ramai kredit motor, kredit mobil – akan berubah menjadi investasi produktif yang menciptakan lapangan kerja dan memakmurkan para pelakunya dunia akhirat – karena diterapkannya prinsip 1/3 dari hadits tersebut di atas. InsyaAllah.*

Gita Wirjawan Tokoh Bisnis Pengusaha Sukses Indonesia

Kisah pengusaha sukses bernama Gita Wirjawan dapat menjadi inspirasi dalam bisnis dan wirausaha. Seorang pengusaha asal Indonesia ini terjun dalam dunia politik dan pemerintah sejak tahun 2004 silam. Karir rangkap sekarang selain menjadi inspirator tokoh pengusaha sukses Indonesia juga berhasil menjadi menteri Perdagangan tahun 2011 hingga 2014 di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Perusahaan yang pernah beliau dirikan yakni Ancora Capital dan telah berkembang maju bersama industri sumber daya dan pertambangan. Pengusaha bernama Gita Wirjawan membesarkan perusahaannya sendiri selepas pengsiun dari jabatan tertingginya sebagai Presiden Direktur JP. Morgan Indonesia.

Karir perjalanan hidup Gita Wirjawan dalam sebuah biografi pengusaha sukses Indonesia sungguh sangat menginspirasi banyak orang. Beliau selama kuliah di luar negeri banyak menghabiskan waktu justru malah bekerja di sebuah restoran di Texas. Pengalaman inilah yang barangkali menjadi pemicu dalam hal kemampuan manajerial memimpin beberapa perusahaan bisnis.

Merasa belum puas dengan pendidikan S1 jurusan Administrasi Bisnis, saat bekerja di Citibank di tahun 1999 Gita Wirjawan terus mengenyam bangku kuliah S2 public administration Bisnis hingga tamat di Universitas Harvard pada tahun 2000.

Siapa dan apa saja prestasi seorang Gita Wirjawan, marilah kita simak profil Lengkap tokoh bisnis penguasaha asal Indonesia berikut ini :

Nama Lengkap Gita Irawan Wirjawan
Tempat / Tgl Lahir : Jakarta, Selasa, 21 September 1965
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam
Profesi : Pengusaha
Hobby : Musik jazz | Golf | Basket | Renang | Sepakbola
Istri : Yasmin Stamboel
Ayah : Wirjawan Djojosoegito
Ibu : Paula Warokka Wirjawan

Pendidikan Gita Wirjawan 
S-2 di Harvard University, lulus 2000
Kennedy School of Government,
Harvard University, 1992

Karir Pekerjaan Gita Wirjawan 
Goldman Sachs, 2001-2004
ST Telekomunikasi, Singapura, 2005-2006
Presdir JP Morgan Indonesia, 2006-2008
Anggota Dewan Direktur Independen di Telekom Malaysia International
Komisaris Pertamina
Pendiri Ancora Capital (2008), Ancora Golf, Omega Pacific Production, Ancora Foundation
Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), 2009-2011
Menteri Perdagangan (2011-2014)
Itulah uraian singkat terkait Profil dan juga Biografi seorang pengusaha bernama Gita Wirjawan sebagai tokoh Pengusaha Sukses asal Indonesia.

Cara Menjual Barang / Jasa Lewat Internet

Hasil gambar untuk cara menghasilkan uang lewat internet

Jaman teknologi digital sekarang ini memberi peluang siapa pun yang berprofesi jual beli menggunakan fasilitas internet online yang serba mudah. Bisnis jual barang menggunakan teknologi jaringan media elektronik sebenarnya sangatlah mudah, tetapi sayangnya tidak setiap orang mau melakukannya.

Pasar bebas yang kini sedang kita alami di dunia memaksa kita untuk terus belajar mengembangkan jaringan bisnis lebih luas lagi. Dan ini hanya dapat dilakukan dengan cara media sosial di Internet. Banyak hal yang harus terus kita pelajari dalam rangka menjual barang / Jasa via internet, oleh sebabnya maka mari kita terus menambah wawasan kita dengan selalu bergabung dengan media forum jual beli atau situs informasi harga terbaru yang tentunya akan cepat bila menggunakan akses internet.

Berikut ini cara menjual barang lewat internet dengan mudah :
  1. Siapkan barang yang akan dijual dengan cara mengambil foto / gambar barang dengan jelas dan nyata. Tidak lupa pula harus diketahui spesifikasi barang, pasaran harga terupdate, dan siapa / kemana pangsa pasar yang akan dibidik. Misalnya ketika mau menjual motor Mio maka cari informasi daftar harga motor yamaha terbaru.
  2. Bila memilih penjualan jasa maka harus dengan jelas bukti bahwa kita memang dapat melakukan hal tersebut, seperti menjual jasa penulisan artikel, jasa konsultasi, dan lain sebagainya.
  3. Bergabung dengan media sosial seperti facebook, twitter, atau forum-forum, misalnya kaskus,  atau yang lainnya. Berikan kesan di jaringan sosial tersebut bahwa kita berprofesi sebagai penjual atau pembeli online, marketing online, selles internet, dengan begitu teman yang telah bergabung tersebut akan percaya kepada kita bila menjual barang / jasa.
  4. Deskripsikan apa yang kita jual tersebut di media sosial dengan jelas dan tanpa sedikitpun berniat. Kepuasan harus senantiasa dijaga, sebab satu kali saja order kepada konsumen online tersebut tidak menghasilkan kepuasan konsumen, maka reputasi dalam menjual barang / jasa lewat internet dikatakan gagal. Oleh sebabnya tips utama cara menjual barang / jasa melalui

BELAJAR KODE ETIK

Kode etik dalam bisnis, meski tak tertulis, tetap ada.
Meski itu bisnis recehan.
Misalnya :
Jangan tanya resep ke penjual kue. Dia pasti susah payah trial resep sampai bisa percaya diri menjualnya, masa kita mau copas?
Kalau butuh ya pesan saja kuenya, dia pasti senang. InsyaAllah berkah.
Jangan tanya detil tempat kulakan ke pedagang. Dia pasti sudah jungkir balik ke banyak tempat kulak sampai ketemu yang pas, termurah, dan ternyaman sehingga dia berani menjualnya.
Kalau butuh banyak ya beli saja ke dia, pasti hatinya senang dan kasih diskon. Kalau ngga dikasih diskon ya jangan minta, mungkin dia sudah mepet untungnya. 
Kalau minat jualan juga, katakan saja apakah ada peluang jadi resellernya.
Jangan menjelekkan dagangannya di depan umum, apalagi jika dia hanya menjual, tidak ikut bikinnya. Nanti dia sedih.
Kalau ngga cocok ya tidak usah beli, barangkali ada orang lain yang lebih cocok.
Selera kan beda-beda, banyak faktornya.
Jangan mengkritik di depan umum. Karena setiap pedagang pasti sudah berusaha maksimal memberikan yang terbaik. 
Seperti slogan di rumah makan, jika puas beritahu teman, jika tidak puas beritahu kami. 
Jangan dibalik 
Jangan ngutang, karena berjualan itu kan cari nafkah. Kalau modal macet, nafkahnya ke keluarga juga macet. 
Masa ya tega?
Hhmmm....apalagi ya?
Banyak sih...intinya jangan menghalangi rizki orang, ngambil hak orang, atau nyusahin orang.
Karena bisnis bukan sebatas transaksi jual-beli, tapi juga butuh keberkahan.
kami menjaga nya walau tanpa asosiasi dan paguyuban.